Mendukbangga Sebut Program MBG Dorong Penurunan Stunting di Jawa Barat

Mendukbangga Sebut Program MBG Dorong Penurunan Stunting di Jawa Barat

Nusantaratv.com - 13 Januari 2026

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (kiri) saat mengunjungi rumah salah satu keluarga berisiko stunting untuk diberikan bantuan nutrisi selama enam bulan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin, 12 Januari 2026. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (kiri) saat mengunjungi rumah salah satu keluarga berisiko stunting untuk diberikan bantuan nutrisi selama enam bulan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin, 12 Januari 2026. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan angka stunting di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Sukabumi.

Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat berdialog dengan tim pendamping keluarga (TPK) sekaligus menyerahkan bantuan kepada keluarga berisiko stunting di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, Senin, 12 Januari 2026.

"Se-Indonesia itu ada 597.692 TPK, salah satu yang terbesar itu di Jawa Barat karena penduduknya terbanyak, 2,8 juta, termasuk di Sukabumi, kecamatannya 47, desanya 381. Karena itu, kalau kita mau bergerak, termasuk percontohan kuantitas itu Jabar. Alhamdulillah untuk stunting juga turunnya luar biasa di Jawa Barat," katanya.

Ia mengemukakan, berbagai intervensi untuk menurunkan angka stunting terus dilakukan di Jawa Barat melalui kerja sama dengan banyak pihak.

"Nanti apa yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan, termasuk program MBG khusus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B)," ujar dia

Meski demikian, Wihaji menilai penurunan stunting belum dapat dipastikan secara final karena pengukuran harus mengacu pada data yang valid. Ia menambahkan, stunting dipengaruhi beragam faktor, tidak hanya asupan gizi, tetapi juga sanitasi yang buruk, keterbatasan air bersih, hingga praktik pernikahan dini

Ia menjelaskan, Kemendukbangga/BKKBN mengemban amanah untuk ikut mendistribusikan MBG sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025. Dalam pasal 47 peraturan tersebut disebutkan bahwa Kemendukbangga/BKKBN mendayagunakan kader pendamping keluarga untuk menyalurkan MBG kepada sasaran ibu hamil, ibu menyusui, serta anak di bawah usia lima tahun mulai usia enam bulan, sekaligus memberikan edukasi pola konsumsi pangan sehat di tingkat keluarga.

"Karena itu, kita cek di lapangan apakah ada masalah, mengingat ada beberapa tempat ternyata mungkin kemarin ada yang viral (pemberian MBG menggunakan kantong plastik), masalah itu kita pastikan jangan sampai terulang," tuturnya, dikutip dari Antara.

Untuk itu, lanjut Wihaji, TPK akan terus berada di garda terdepan dalam membantu distribusi MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, serta menjalankan berbagai program intervensi lain yang berkaitan dengan percepatan penurunan stunting, seperti Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting).

Kader TPK atau penyuluh Kemendukbangga/BKKBN menyalurkan MBG kepada sasaran 3B dengan waktu yang bervariasi. Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kemendukbangga/BKKBN telah menetapkan standar pemberian MBG bagi kelompok tersebut, yakni tiga kali berupa makanan kering dan dua kali makanan basah. Para kader juga menyalurkan MBG secara langsung kepada keluarga berisiko stunting yang membutuhkan.

Para kader yang mendistribusikan MBG dari rumah ke rumah memperoleh insentif sebesar Rp500 hingga Rp1.000 per ompreng. Di Kecamatan Kabandungan, lokasi kunjungan Wihaji, total sasaran 3B penerima MBG tercatat sebanyak 3.226 orang.

 

 

 

 

 


 

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close