Nusantaratv.com - Ferrari dan BMW resmi memperluas penggunaan kabel aluminium pada mobil listrik (EV) dan hybrid mereka.
Selain lebih ringan, aluminium dipilih karena harganya jauh lebih murah dibanding tembaga, di tengah lonjakan harga logam tersebut.
Selain itu, langkah ini juga mempercepat pergeseran industri otomotif dari tembaga ke aluminium sebagai material utama sistem kelistrikan kendaraan.
Peralihan tersebut sebelumnya telah dilakukan Tesla dan sejumlah produsen mobil listrik asal China seperti XPeng, Xiaomi, dan AVATR.
Menurut JPMorgan, tren ini berpotensi menggeser sekitar 2% permintaan tembaga global pada tahun ini dan bisa meningkat menjadi 6% pada 2030.
Ferrari mulai memakai kabel aluminium pada mobil hybrid 296 sejak tahun lalu dan kini menerapkannya pada model lain, termasuk mobil listrik pertamanya, Luce.
Perusahaan menyebut penggunaan aluminium mampu memangkas bobot kabel hingga 20%, sehingga meningkatkan efisiensi kendaraan.
"Kami tidak memilih aluminium karena harganya lebih murah. Kami memilihnya karena material ini menawarkan kinerja yang lebih unggul," ujar Eksekutif Komunikasi Ferrari, Dario Esposito, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/7/2026).
BMW juga telah menggunakan konduktor aluminium sejak 2011 dan kini menerapkannya secara luas pada sistem tegangan tinggi maupun rendah di teknologi eDrive terbaru untuk kendaraan listrik.
Selain lebih ringan, aluminium memiliki harga yang jauh lebih murah. Saat ini harga aluminium sekitar US$3.100 atau sekitar Rp55,7 jutaan (kurs Rp17.970 per dolar AS) per ton, hanya sekitar seperempat dari harga tembaga yang sempat mendekati rekor US$15.000 atau setara Rp269,5 jutaan per ton pada awal tahun.
Tak hanya industri otomotif, produsen kabel, pendingin udara, hingga perusahaan logam juga mulai beralih ke aluminium untuk menekan biaya produksi.
Meski demikian, tembaga masih tetap dibutuhkan pada aplikasi tertentu karena memiliki konduktivitas listrik yang lebih baik.
Di China, pemerintah turut mendorong penggunaan aluminium melalui kebijakan industri. Para analis memperkirakan 25-30% komponen berbahan tembaga di sektor energi, otomotif, dan peralatan rumah tangga dapat digantikan aluminium pada 2030.
Bagi produsen kendaraan listrik, penggunaan aluminium menjadi solusi menarik karena mampu mengurangi bobot kendaraan, memperpanjang jarak tempuh, sekaligus menekan biaya produksi di tengah persaingan harga yang semakin ketat.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh