Nusantaratv.com-Badan Pengaturan BUMN bersama Danantara Indonesia tengah melakukan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola dan transparansi laporan keuangan seluruh badan usaha milik negara (BUMN).
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk merapikan pencatatan keuangan dan menyelesaikan persoalan impairment atau penurunan nilai aset sebelum laporan keuangan Danantara dipublikasikan pada pertengahan tahun ini.
"Kita sedang bereskan buku-buku semua. Impairment kita rapihkan dulu," ujar Dony dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Dony, transformasi menyeluruh di tubuh BUMN menjadi langkah penting agar pengelolaan aset negara dapat berjalan lebih transparan dan akuntabel. Ia menilai persoalan keuangan yang selama ini membebani sejumlah BUMN berasal dari lemahnya tata kelola perusahaan.
"BUMN harus berubah, harus bertransformasi menjadi lebih transparan dikelola menjadi lebih baik," katanya.
Dony mengungkapkan persoalan laporan keuangan BUMN kerap dipicu praktik manipulasi atau rekayasa keuangan yang dilakukan untuk memperlihatkan kinerja perusahaan tampak lebih baik di atas kertas.
Akibat praktik tersebut, negara maupun perusahaan harus menanggung kerugian besar yang muncul karena kelalaian manajemen hingga tindakan kecurangan atau fraud.
"Kesalahan yang terjadi akibat empat hal. Financial engineering tujuannya performance terlihat lebih baik. Karena investasi yang digelembungkan dan dibesar-besarkan. Rugi karena keteledoran dalam memanage atau rugi karena fraud," kata Dony.
Ia menyebut dampak lemahnya tata kelola itu terlihat dari tingginya nilai impairment aset BUMN yang pada tahun ini mencapai hampir Rp100 triliun. Selain itu, sektor dana pensiun atau dapen BUMN juga menghadapi persoalan serius berupa potensi gagal bayar dengan nilai eksposur mencapai sekitar Rp50 triliun.
"Anda bisa bayangkan pada tahun ini saja impairment (penurunan nilai aset) hampir Rp100 triliun akibat kesalahan tata kelola.Tahun ini saya harus menyelesaikan lagi potential default dan exposure kita dana pensiun kurang lebih Rp50 triliun," kata Dony, dikutip dari Antara.
Karena besarnya persoalan tersebut, Danantara dan BP BUMN memilih mengambil langkah bertahap dengan melakukan audit mendalam serta merapikan seluruh pencatatan aset agar sesuai kondisi riil di lapangan.
Dony memastikan laporan keuangan Danantara baru akan diselesaikan setelah seluruh pos keuangan BUMN yang bermasalah ditertibkan dan dihitung ulang secara objektif.
Melalui proses konsolidasi dan pembersihan buku keuangan tersebut, Danantara diharapkan dapat membangun fondasi keuangan yang lebih sehat, transparan, dan akuntabel sesuai standar tata kelola global.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh